A. GURU
KREATIF
Guru merupakan profesi
yang dinamis. Ia terus berkembang seiring dengan peradaban yang memolanya.
Ranah tugas seorang guru idealnya tidak lagi dibatasi tembok-tembok ruang
kelas, tetapi harus sudah mampu merambah ke “dunia lain”; dunia yang akan terus
melecutnya menjadi sosok inspiratif; sosok yang mampu mengilhami peserta didik
menjadi generasi masa depan yang cerdas, baik secara intelektual, emosional,
spiritual, maupun sosial.
Ø Pertama,
popularitas. Melalui tulisan, seorang guru mampu menyuguhkan
pemikiran-pemikiran kritis dan kreatif kepada publik dengan jangkauan yang
(nyaris) tak terbatas. Semakin banyak tulisan yang sukses menembus media cetak,
nama sang penulis juga akan makin pupuler dan mendapatkan tempat tersendiri di
mata pembaca. Dengan demikian, guru yang membudayakan aktivitas menulis akan
mampu membangun opini publik terhadap persoalan-persoalan pendidikan yang
hingga saat ini masih sarat dengan beban masalah.
Ø Kedua,
profesionalisme. Secara langsung, sebuah tulisan memang tidak bisa memberikan
manfaat praktis terhadap peningkatan mutu proses pembelajaran dan bisa menyihir
generasi masa depan negeri ini menjadi sosok yang cerdas dan berkarakter
Ø Ketiga,
aktualisasi diri. Secara internal, tulisan bisa dijadikan sebagai media untuk
beraktualisasi diri. Melalui opini yang disajikan dalam sebuah tulisan,
gagasan-gagasan kreatif seorang guru makin memperkokoh posisi dan legitimasi
sosialnya di mata publik sehingga sosok guru makin terhormat dan bermartabat.
Sebagai praktisi yang merasakan denyut kehidupan dunia pendidikan secara
langsung, gagasan-gagasan kreatif dan orisinil dari seorang guru sangat
dibutuhkan untuk membangun desain pendidikan yang lebih mencerdaskan dan
mencerahkan.
Ø Keempat,
katarsis diri. Sebagai sosok yang berdiri di garda depan dalam dunia
pendidikan, guru jelas sangat memahami silang-sengkarutnya dunia pendidikan
yang hingga kini belum sanggup melahirkan generasi yang cerdas dan berkarakter.
Kelima,
mengasah kepekaan. Guru abad ke-21 tidak cukup hanya menjadi guru kurikulum
yang menafsirkan kurikulum semacam “kitab suci” yang monotafsir.
Ø Keenam, finansial.
Ini merupakan keuntungan lain yang bisa didapatkan seorang guru di balik
jerih-payahnya menekuni dunia kepenulisan. Saat ini media cetak sangat
menghargai tulisan karya guru yang dinilai kreatif, inovatif, dan orisinil.
Rubrik media cetak pun terbuka luas bagi seorang guru untuk berkarya.
- Kreatifitas dalam Pemanfaatan Media Belajar
Media belajar adalah alat atau benda
yang dapat mendukung proses pembelajaran di kelas. Fungsi Media Belajar (1)
membantu siswa dalam memahami konsep abstrak yang diajarkan, (2) meningkatkan
motivasi siswa dalam belajar, (3) Mengurangi terjadinya misunderstanding, (4)
Memotivasi guru untuk mengembangkan pengetahuan. Dalam hal media belajar,
kreatifitas guru dalam media belajar diarahkan untuk:
Ø
Mereduksi
hal-hal yang terlalu abstrak dalam materi belajar
Ø Membantu siswa mengintegrasikan
materi belajar ke dalam situasi yang nyata.
Guru yang kreatif dapat dicirikan
dari kemampuannya dalam melaksanakan tugas, peran dan fungsinya secara profesional.
Menurut artikel yang ditulis
oleh Ali Ansori, S.S, M.Pd,. Ada 9 ciri yang harus diusahakan/ dilakukan
guru agar ia termasuk guru yang
kreatif, yaitu:
1) Mampu mengekspos siswa pada hal-hal yang bisa membantu mereka dalam belajar,
2) Mampu melibatkan
mereka dalam segala aktivitas pembelajaran,
3) Mampu memberikan
motivasi buat siswa baik secara verbal maupun non verbal,
4) Mampu
mengembangkan strategi pembelajaran (penerapan pendekatan, metode, model dan …..tehnik) dalam proses
pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan karakter materi,
5) Mampu
menciptakan pembelajaran yang joyful dan meaningful,
6) Mampu
berimprovisasi dalam proses pembelajaran
7) Mampu membuat
dan mengembangkan media pembelajaran yang menarik dan aplikatif,
8) Mampu membuat
dan mengembangkan bahan ajar yang variatif, dan
9) Mampu
menghasilkan inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran.
Kreatifitas akan mampu mendatangkan perubahan. Mengubah paradigma lama menuju paradigm baru dalam melakukan pembelajaran adalah sebuah tuntutan bukan tawaran. Eksistensi guru sebagai pendidik itu ada justru karena perubahan itu sendiri
B.
SISWA AKTIF
Keterlibatan siswa bisa diartikan sebagai siswa berperan aktif sebagai partisipan dalam proses belajar mengajar. Menurut Dimjati dan Mudjiono(1994:56-60), keaktifan siswa dapat didorong oleh peran guru. Guru berupaya untuk memberi kesempatan siswa untuk aktif, baik aktif mencari, memproses dan mengelola perolehan belajarnya.
Untuk
dapat meningkatkan
keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar guru dapat melakukannya
dengan ; keterlibatan secara langsung siswa baik secara individual maupun
kelompok; penciptaan peluang yang mendorong siswa untuk melakukan eksperimen,
upaya mengikutsertakan siswa atau memberi tugas kepada siswa untuk memperoleh
informasi dari sumber luar kelas atau sekolah serta upaya melibatkan siswa
dalam merangkum atau menyimpulkan pesan pembelajaran.
Adapun
kualitas dan kuantitas keterlibatan
siswa dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor internal dan faktor
eksternal. Internal faktor meliputi faktor fisik, motivasi dalam belajar, kepentingan dalam
aktivitas yang diberikan, kecerdasan dan sebagainya. Sedangkan eksternal faktor
meliputi guru, materi pembelajaran, media, alokasi waktu, fasilitas dan sebagainya.
Keterlibatan siswa hanya bisa dimungkinkan
jika siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi atau terlibat dalam proses pembelajaran. Dalam proses
belajar mengajar sebelumnya, para murid diharuskan tunduk dan patuh pada
peraturan dan prosedur yang kaku yang justru membatasi keterampilan berfikir
kreatif. Dalam belajar, anak-anak lebih banyak disuruh menghapal ketimbang
mengeksplorasi, bertanya atau bereksperimen.
Partisipasi aktif siswa sangat berpengaruh
pada proses perkembangan berpikir, emosi, dan sosial. Keterlibatan siswa dalam
belajar, membuat anak secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan mengambil keputusan. Namun
pembelajaran saat ini pun masih ada yang menggunakan metode belajar dimana siswa menjadi pasif
seperti pemberian tugas, dan guru mengajar secara monolog, sehingga cenderung
membosankan dan menghambat perkembangan aktivitas siswa.
Komponen-komponen
yang menentukan keterlibatan
siswa dalam proses belajar mengajar meliputi: siswa,
guru, materi, tempat, waktu, dan fasilitas.
Siswa bisa kreatif di kelas jika gurunya
pandai memandu lewat pertanyaan-pertanyaan, bahkan jika siswa menjawab keluar
dari ‘rel’. Semua siswa pada dasarnya kreatif itulah mind set
guru kreatif. Semua siswa kreatif sesuai dengan gaya belajarnya, tugas guru
memberikan ‘panggung’ untuk setiap tipe ‘kecerdasan’. Jika murid malah
kreatif di luar sekolah, tanda bahwa guru dan sekolah mesti berubah. Siswa
kreatif itu ribut di kelas sedangkan siswa yang ribut terus di kelas itu
pertanda karena gurunya kurang kreatif. Kelas yang baik adalah siswa di
dalamnya senang belajar, gembira berinteraksi dengan guru yang menerima
ia apa adanya.
Secara garis besar, gambaran KREATIF siswa
adalah sebagai berikut:
- Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
- Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
- Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’
- Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.
- Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.
1.
Pengertian
Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif
Pada umumnya metode lebih cenderung disebut sebuah pendekatan. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan kata “approach” yang dimaksudnya juga “pendekatan”. Di dalam kata pendekatan ada unsur psikhis seperti halnya yang ada pada proses belajar mengajar. Semua guru profesional dituntut terampil mengajar tidak semata-mata hanya menyajikan materi ajar. Guru dituntut memiliki pendekatan mengajar sesuai dengan tujuan instruksional. Menguasai dan memahami materi yang akan diajarkan agar dengan cara demikian pembelajar akan benar-benar memahami apa yang akan diajarkan. Piaget dan Chomsky berbeda pendapat dalam hal hakikat manusia. Piaget memandang anak-akalnya-sebagai agen yang aktif dan konstruktif yang secara perlahan-lahan maju dalam kegiatan usaha sendiri yang terus-menerus. Pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) menuntut keterlibatan mental siswa terhadap bahan yang dipelajari.
Pada umumnya metode lebih cenderung disebut sebuah pendekatan. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan kata “approach” yang dimaksudnya juga “pendekatan”. Di dalam kata pendekatan ada unsur psikhis seperti halnya yang ada pada proses belajar mengajar. Semua guru profesional dituntut terampil mengajar tidak semata-mata hanya menyajikan materi ajar. Guru dituntut memiliki pendekatan mengajar sesuai dengan tujuan instruksional. Menguasai dan memahami materi yang akan diajarkan agar dengan cara demikian pembelajar akan benar-benar memahami apa yang akan diajarkan. Piaget dan Chomsky berbeda pendapat dalam hal hakikat manusia. Piaget memandang anak-akalnya-sebagai agen yang aktif dan konstruktif yang secara perlahan-lahan maju dalam kegiatan usaha sendiri yang terus-menerus. Pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) menuntut keterlibatan mental siswa terhadap bahan yang dipelajari.
2.
Dasar-Dasar Pemikiran Pendekatan Cara
Belajar Siswa Aktif
Usaha penerapan dan peningkatan CBSA dalam kegiatan Belajar Mengajar (KBM) merupakan usaha “proses pembangkitan kembali” atau proses pemantapan konsep CBSA yang telah ada. Untuk itu perlu dikaji alasan-alasan kebangkitan kembali dan usaha peningkatan CBSA dasar dan alasan usaha peningkatan CBSA secara rasional adalah sebagai berikut:
a. Rasional atau dasar pemikiran dan alasan usaha peningkatan CBSA dapat ditinjau kembali pada hakikat CBSA dan tujuan pendekatan itu sendiri. Dengan cara demikian pembelajar dapat diketahui potensi, tendensi dan terbentuknya pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dimilikinya. Pada dasarnya dapat diketahui bahwa baik pembelajar. materi pelajaran, cara penyajian atau disebut juga pendekatan-pendekatan berkembang. Jadi hampir semua komponen proses belajar mengajar mengalami perubahan.
Usaha penerapan dan peningkatan CBSA dalam kegiatan Belajar Mengajar (KBM) merupakan usaha “proses pembangkitan kembali” atau proses pemantapan konsep CBSA yang telah ada. Untuk itu perlu dikaji alasan-alasan kebangkitan kembali dan usaha peningkatan CBSA dasar dan alasan usaha peningkatan CBSA secara rasional adalah sebagai berikut:
a. Rasional atau dasar pemikiran dan alasan usaha peningkatan CBSA dapat ditinjau kembali pada hakikat CBSA dan tujuan pendekatan itu sendiri. Dengan cara demikian pembelajar dapat diketahui potensi, tendensi dan terbentuknya pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dimilikinya. Pada dasarnya dapat diketahui bahwa baik pembelajar. materi pelajaran, cara penyajian atau disebut juga pendekatan-pendekatan berkembang. Jadi hampir semua komponen proses belajar mengajar mengalami perubahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar